Postingan

RIGOR MORTIS

Gambar
 Mati berkarya. Mati bergerak. Mati berpikir. Mati merasa. Semua tampak semu. Hambar. Bagaimana rasanya? Tidak tahu. Tidak ada satu pun yang tahu. Bayangkan ini: Pisau menancap dalam pada leher. Kaki dan tangan bengkok tak wajar. Kepala robek. Mulut dibungkam oleh tumpukan besi berkarat. Tidak ada suara. Tidak ada yang tahu. Dan yang paling mengerikan: Tidak ada yang peduli. Bagaimana mungkin? Segalanya terjadi bukan karena ledakan dahsyat, tapi karena pembusukan. Berangsur-angsur. Bagaikan matahari yang terbenam perlahan, lalu menolak untuk bersinar lagi selamanya. Kau menunggu apa? Tidak ada yang perlu ditunggu. Kau hanya berupaya menggapai momentum untuk mengimplementasikan skenario kehancuran yang terlampir dalam pikiranmu sendiri. Lihat ke sudut sana. Paranoia sedang menertawakanmu. Ia menjahilimu dengan pandangan-pandangan bias yang tak kunjung usai. Apakah kamu percaya? Jangan jawab. Itu adalah pertanyaan yang haram dipertanyakan, karena jawabannya hanya akan m...

BENCANA KEBENCIAN

Gambar
     Akhir November 2025 . Sumatera —khususnya Aceh —baru saja dihantam bencana dahsyat. Tundukkan kepalamu sejenak. Bukan hanya untuk berdoa, tapi untuk berpikir.      Daerah ini adalah raksasa yang tertidur. Sumber daya alamnya melimpah ruah, namun urat nadinya dikuras habis-habisan. Diangkut dan dipindahkan ke Jawa, meninggalkan inangnya kering kerontang. Hasilnya? Disparitas . Jurang pemisah yang menganga dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, dan infrastruktur. Ketika bencana datang, infrastruktur yang rapuh itu runtuh seketika, menelan korban yang seharusnya bisa selamat.      Ini adalah momen yang tepat untuk membenturkan kepala manusia yang tinggal di pusat kenyamanan (Indonesia bagian lain). Benturan kesadaran adalah hal utama saat melihat darah tumpah seperti ini. Sadarlah! Sumatera bukan sapi perah. Mereka adalah bagian dari tubuh negara ini. Mereka sedang berteriak membutuhkan bantuan.      Aku tidak akan membuang waktu...

MENUJU NIRVANA

Gambar
     Jika ditanya apa ambisi terbesarku di sisa waktu yang fana ini, jawabanku adalah sebuah paradoks : Aku berhasrat untuk tidak memiliki hasrat apa pun.      Tujuanku bukan lagi pencapaian duniawi , melainkan ketenangan jiwa mutlak melalui Nirvana .      Hidup di bumi adalah sebuah transaksi yang merugikan. Ia adalah perjuangan yang memaksa kita mengorbankan kehidupan itu sendiri hanya untuk tetap bernapas. Aku sudah lelah dengan barter ini.      Mulai detik ini, aku menolak seluruh spektrum emosi. Aku tidak menginginkan Kesenangan atau Kebahagiaan , karena itu hanyalah candu sementara. Aku menolak Kekecewaan dan Kesedihan , karena itu adalah racun yang tak perlu. Aku membuang Kekhawatiran , Kecemasan , dan Ketakutan .      Aku ingin mencapai titik nol . Datar. Hening.      Dan yang paling krusial: Membunuh Ego dan Hubungan Sosial.      Biarlah semua wajah yang kukenal kembali me...

SEBELUM MATI

Gambar
     Kematian bukanlah tragedi, ia hanyalah garis finis . Sebelum aku menyentuh garis itu, ada beberapa protokol yang harus ditegakkan. Bukan permintaan, melainkan pernyataan sikap. Warisan Fungsional Sebelum mati, aku pastikan seluruh karya yang pernah kubuat—tulisan, kode, gambar—dilepaskan ke dunia secara gratis. Ambil. Jangan hanya dipajang. Gunakan sebagai referensi, gunakan sebagai senjata, gunakan untuk menunjang aktivitasmu. Biarkan karyaku memiliki "nyawa" fungsional ketika penciptanya sudah tidak bernyawa. Larangan Air Mata Sebelum mati, aku tegaskan: Aku tidak ingin ada satu pun orang yang menangisi kepergianku. Menangisi kematian adalah bentuk penolakan konyol terhadap kepastian. Itu adalah hukum alam yang wajib diterima apa adanya ( Amor Fati ). Simpan air matamu untuk mereka yang masih hidup tapi jiwanya sudah mati. Harapan pada Akal Sebelum mati, aku hanya memiliki satu harapan egois: Adanya satu jiwa yang tidak sekadar "melihat" karyaku, tapi men...

GENDER

Gambar
     Pada dasarnya, setiap individu adalah anomali. Kita terlahir berbeda, liar, dan spesifik.      Namun, peradaban memiliki obsesi sakit untuk merapikan kekacauan itu. Munculah Standar Moral —termasuk label kaku bernama " Gender " dan peran sosial—sebagai alat untuk menyamaratakan keadaan. Mereka ingin memangkas sisi-sisi tajam kita agar muat ke dalam kotak yang sama.      Apakah ini inovasi yang baik? Belum tentu.      Standar moral ini lahir dari akar yang busuk: Keinginan untuk Memiliki . Manusia terobsesi memiliki identitas yang tetap, memiliki kendali, memiliki definisi pasti. Padahal, realitas tidak bekerja seperti itu. Kehilangan adalah satu-satunya hal yang realistis. Mencoba memiliki dan menjaga definisi itu hingga mati adalah kesia-siaan, karena pada akhirnya segalanya akan musnah.      Lihatlah saat sebuah pertanyaan tentang identitas menyerang secara tiba-tiba. Rasa panik muncul. Kalian tidak menca...

KEDAMAIAN NAIF

Gambar
Mungkin kalian yang membaca arsip ini berpikir: "Penulis ini gila, seakan menantang maut dalam hidupnya sendiri." Anggapan itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Dulu, aku pun sama seperti kalian. Aku pernah berada di titik nadir di mana validasi eksternal jauh lebih berharga daripada integritas internal . Aku memohon agar dunia bersikap lembut padaku. Namun seiring waktu, pisau-pisau kenyataan menggorok leherku, memaksaku melihat fakta yang paling brutal: Di atas tanah yang kupijak ini, tidak ada yang namanya Keadilan mutlak . Tidak ada Keamanan yang abadi . Tidak ada Ketentraman yang gratis. Yang ada hanyalah siklus konstan: Kejahatan, Penderitaan, Kekecewaan, dan Perundungan. Bentuknya variatif, tapi esensinya sama. Kalian memuja perdamaian? Sadarilah satu hal: Perdamaian tidak akan pernah ada tanpa Peperangan. Bagaimana mungkin konsep "damai" muncul jika tidak didahului oleh konflik? Damai hanyalah jeda antara dua pertempuran. Lihatlah lebih luas. ...

STANDAR PEMBUNUH

Gambar
    Media sosial bukan lagi sekadar etalase keseharian. Ia telah berevolusi menjadi standar —atau lebih tepatnya, sebuah pisau tumpul yang ditancapkan perlahan ke kepala manusia. Tujuannya satu: agar mereka memohon penilaian dan validasi atas setiap napas yang mereka ambil.      Ini adalah rekayasa hiburan yang sempurna. "Produktivitas" dan "Estetika" dijadikan umpan manis untuk menjebak pengguna masuk ke dalam kandang emas .      Dulu, aku melihat fenomena ini dengan kekhawatiran. Aku resah melihat orang-orang kehilangan diri mereka sendiri demi sebuah jempol digital . Aku ingin berteriak memperingatkan mereka.      Tapi sekarang? Itu bukan urusanku.      Pikiran dasarnya sederhana: Mereka memiliki otak untuk berpikir, bukan?      Jika mereka benar-benar mahluk berakal , sepatutnya mereka tahu cara membedakan mana 'makanan' yang bernutrisi dan mana 'racun' yang dikemas cantik. Mereka memilih unt...