BENCANA KEBENCIAN
Daerah ini adalah raksasa yang tertidur. Sumber daya alamnya melimpah ruah, namun urat nadinya dikuras habis-habisan. Diangkut dan dipindahkan ke Jawa, meninggalkan inangnya kering kerontang. Hasilnya? Disparitas. Jurang pemisah yang menganga dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, dan infrastruktur. Ketika bencana datang, infrastruktur yang rapuh itu runtuh seketika, menelan korban yang seharusnya bisa selamat.
Ini adalah momen yang tepat untuk membenturkan kepala manusia yang tinggal di pusat kenyamanan (Indonesia bagian lain). Benturan kesadaran adalah hal utama saat melihat darah tumpah seperti ini. Sadarlah! Sumatera bukan sapi perah. Mereka adalah bagian dari tubuh negara ini. Mereka sedang berteriak membutuhkan bantuan.
Aku tidak akan membuang waktu membahas kausalitas teknis—biar media resmi yang mengurus data itu. Tapi satu hal yang pasti: Kemanusiaan harus berada di posisi teratas. Di atas politik, di atas birokrasi, di atas ego sektoral.
Dan lihatlah ke langit yang gelap itu. Sudah terlihat jelas, bukan? Alam semesta sedang beroperasi tanpa moralitas apa pun.
Alam tidak mengenal "orang baik" atau "orang jahat". Ia bisa membunuh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Ia dingin, brutal, dan acuh tak acuh. Di hadapan alam yang begini, manusia seharusnya bersatu. Namun, aku sangat jauh dari kata optimis. Sebagian besar manusia masih terlalu sibuk menuhankan material, mementingkan kelompok, dan mengabaikan sisi spiritual mental.
Mereka tidak sadar, bahwa giliran mereka pun akan tiba.

Komentar
Posting Komentar