GENDER
Pada dasarnya, setiap individu adalah anomali. Kita terlahir berbeda, liar, dan spesifik.
Namun, peradaban memiliki obsesi sakit untuk merapikan kekacauan itu. Munculah Standar Moral—termasuk label kaku bernama "Gender" dan peran sosial—sebagai alat untuk menyamaratakan keadaan. Mereka ingin memangkas sisi-sisi tajam kita agar muat ke dalam kotak yang sama.
Apakah ini inovasi yang baik? Belum tentu.
Standar moral ini lahir dari akar yang busuk: Keinginan untuk Memiliki. Manusia terobsesi memiliki identitas yang tetap, memiliki kendali, memiliki definisi pasti. Padahal, realitas tidak bekerja seperti itu. Kehilangan adalah satu-satunya hal yang realistis. Mencoba memiliki dan menjaga definisi itu hingga mati adalah kesia-siaan, karena pada akhirnya segalanya akan musnah.
Lihatlah saat sebuah pertanyaan tentang identitas menyerang secara tiba-tiba. Rasa panik muncul. Kalian tidak mencari jawaban yang jujur, kalian mencari jawaban yang 'sesuai'. Kalian takut jika jawaban kalian berlawanan dengan standar kawanan.
Pada akhirnya, kita—manusia, mau tidak mau—harus berhadapan dengan Absurditas.
Di tengah kebingungan ini, pilihan yang tersisa hanyalah paradoks: Apakah kau akan mengambil jalur salah yang diyakini benar oleh orang banyak? Atau kau berani mengambil jalur benar yang diyakini salah oleh dunia?

Komentar
Posting Komentar