MENUJU NIRVANA

    Jika ditanya apa ambisi terbesarku di sisa waktu yang fana ini, jawabanku adalah sebuah paradoks: Aku berhasrat untuk tidak memiliki hasrat apa pun.

    Tujuanku bukan lagi pencapaian duniawi, melainkan ketenangan jiwa mutlak melalui Nirvana.

    Hidup di bumi adalah sebuah transaksi yang merugikan. Ia adalah perjuangan yang memaksa kita mengorbankan kehidupan itu sendiri hanya untuk tetap bernapas. Aku sudah lelah dengan barter ini.

    Mulai detik ini, aku menolak seluruh spektrum emosi. Aku tidak menginginkan Kesenangan atau Kebahagiaan, karena itu hanyalah candu sementara. Aku menolak Kekecewaan dan Kesedihan, karena itu adalah racun yang tak perlu. Aku membuang Kekhawatiran, Kecemasan, dan Ketakutan.

    Aku ingin mencapai titik nol. Datar. Hening.

    Dan yang paling krusial: Membunuh Ego dan Hubungan Sosial.

    Biarlah semua wajah yang kukenal kembali menjadi asing. Aku tidak ingin ada ikatan. Aku tidak ingin ada ketergantungan. Aku tidak ingin ada mekanisme "balas jasa" yang membelenggu kebebasan.

    Jangan berbuat baik padaku, agar aku tidak merasa berhutang. Dan jangan berharap aku berbuat baik padamu, agar kau tidak merasa menagih. Biarkan kita berjalan sendiri-sendiri, seperti dua meteor yang berselisih jalan di ruang hampa, tanpa saling menyapa, tanpa saling menoleh.

    Hanya dengan menjadi asing, aku bisa benar-benar pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JATUH KE JURANG

GENDER