STANDAR PEMBUNUH
Media sosial bukan lagi sekadar etalase keseharian. Ia telah berevolusi menjadi standar—atau lebih tepatnya, sebuah pisau tumpul yang ditancapkan perlahan ke kepala manusia. Tujuannya satu: agar mereka memohon penilaian dan validasi atas setiap napas yang mereka ambil.
Ini adalah rekayasa hiburan yang sempurna. "Produktivitas" dan "Estetika" dijadikan umpan manis untuk menjebak pengguna masuk ke dalam kandang emas.
Dulu, aku melihat fenomena ini dengan kekhawatiran. Aku resah melihat orang-orang kehilangan diri mereka sendiri demi sebuah jempol digital. Aku ingin berteriak memperingatkan mereka.
Tapi sekarang? Itu bukan urusanku.
Pikiran dasarnya sederhana: Mereka memiliki otak untuk berpikir, bukan?
Jika mereka benar-benar mahluk berakal, sepatutnya mereka tahu cara membedakan mana 'makanan' yang bernutrisi dan mana 'racun' yang dikemas cantik. Mereka memilih untuk menelan sampah informasi, drama, dan standar palsu itu setiap hari secara sukarela.
Jika mereka tidak mampu membedakannya, intervensi macam apa pun percuma. Manusia tidak berubah semudah membalikkan telapak tangan, terutama jika mereka menikmati penjara mereka sendiri.
Biarkan mereka makan sepuasnya. Aku hanya akan menonton dari pinggir jurang ini.

Komentar
Posting Komentar