SEBELUM MATI

    


Kematian bukanlah tragedi, ia hanyalah garis finis. Sebelum aku menyentuh garis itu, ada beberapa protokol yang harus ditegakkan. Bukan permintaan, melainkan pernyataan sikap.

  1. Warisan Fungsional Sebelum mati, aku pastikan seluruh karya yang pernah kubuat—tulisan, kode, gambar—dilepaskan ke dunia secara gratis. Ambil. Jangan hanya dipajang. Gunakan sebagai referensi, gunakan sebagai senjata, gunakan untuk menunjang aktivitasmu. Biarkan karyaku memiliki "nyawa" fungsional ketika penciptanya sudah tidak bernyawa.
  2. Larangan Air Mata Sebelum mati, aku tegaskan: Aku tidak ingin ada satu pun orang yang menangisi kepergianku. Menangisi kematian adalah bentuk penolakan konyol terhadap kepastian. Itu adalah hukum alam yang wajib diterima apa adanya (Amor Fati). Simpan air matamu untuk mereka yang masih hidup tapi jiwanya sudah mati.
  3. Harapan pada Akal Sebelum mati, aku hanya memiliki satu harapan egois: Adanya satu jiwa yang tidak sekadar "melihat" karyaku, tapi menghargainya dengan Akal. Seseorang yang mau berpikir, membedah, dan menghayati makna di balik setiap goresan dan baris kode. Pahamilah isinya, bukan kulitnya.
  4. Menjadi Debu Dan akhirnya, sebelum mati, aku ingin mereka yang mengenalku tersenyum—bukan karena sedih, tapi karena ikhlas. Setelah itu, lupakan aku. Ingat karyanya, lupakan orangnya. Biarkan namaku terbang jauh, hilang, dan menyatu kembali menjadi debu semesta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JATUH KE JURANG

MENUJU NIRVANA

GENDER