KEDAMAIAN NAIF


Mungkin kalian yang membaca arsip ini berpikir: "Penulis ini gila, seakan menantang maut dalam hidupnya sendiri."

Anggapan itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Dulu, aku pun sama seperti kalian. Aku pernah berada di titik nadir di mana validasi eksternal jauh lebih berharga daripada integritas internal. Aku memohon agar dunia bersikap lembut padaku.

Namun seiring waktu, pisau-pisau kenyataan menggorok leherku, memaksaku melihat fakta yang paling brutal: Di atas tanah yang kupijak ini, tidak ada yang namanya Keadilan mutlak. Tidak ada Keamanan yang abadi. Tidak ada Ketentraman yang gratis.

Yang ada hanyalah siklus konstan: Kejahatan, Penderitaan, Kekecewaan, dan Perundungan. Bentuknya variatif, tapi esensinya sama.

Kalian memuja perdamaian? Sadarilah satu hal: Perdamaian tidak akan pernah ada tanpa Peperangan. Bagaimana mungkin konsep "damai" muncul jika tidak didahului oleh konflik? Damai hanyalah jeda antara dua pertempuran.

Lihatlah lebih luas. Bahkan Bumi ini—planet yang kalian anggap rumah yang nyaman—tidak terbentuk dari belaian kasih sayang. Ia terbentuk dari benturan dahsyat antarbenda langit, ledakan, dan kekacauan yang mengerikan hingga mendingin menjadi seperti sekarang.

Perubahan konstan melalui benturan. Itulah satu-satunya hukum yang berlaku. Jika kau mengharapkan dunia yang adil dan aman tanpa penderitaan, kau sedang hidup di planet yang salah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JATUH KE JURANG

MENUJU NIRVANA

GENDER