AUTOPSI BANGKAI MESIN

 AUTOPSI BANGKAI MESIN

    Sekarang, saat mata ini mulai terbiasa dengan kegelapan di dasar jurang, aku menoleh ke samping. Melihat tumpukan besi tua yang berasap itu. Kendaraan yang dulu membawaku ke sini.

    Dulu, orang-orang menyebut kendaraan ini sebagai "Kehidupan Normal".

    Ia diproduksi massal oleh pabrik bernama Masyarakat. Spesifikasinya standar: Sekolah, Gelar, Pekerjaan Stabil, Pernikahan, Cicilan, Validasi Sosial, dan Pensiun. Semua orang berlomba memilikinya. Mereka memoles bodinya agar mengkilap, memasang aksesoris estetika agar tetangga terkesan, dan mengisi bahan bakarnya dengan "Pujian Orang Lain".

    Tapi bagiku, mesin ini cacat produksi sejak awal.

  1. Malfungsi Bahan Bakar Mesin ini dirancang untuk berjalan dengan bahan bakar bernama Validasi Eksternal. Kau harus "diakui" agar bisa bergerak. Kau harus "dipahami" agar mesin tidak mogok. Dulu aku mencoba mengisinya. Aku mencoba menjadi apa yang diinginkan penumpangku. Tapi aku sadar, tangki bahan bakar ini bocor. Semakin aku tuang energi untuk memuaskan mereka, semakin kosong rasanya.
  2. Sistem Navigasi yang Rusak GPS kendaraan ini dikunci ke satu tujuan: Konformitas. Ia akan berteriak "Rute Salah!" setiap kali aku mencoba berbelok ke jalan pemikiran sendiri. Ia memaksaku melewati jalan raya kemunafikan yang padat, di mana semua orang saling klakson memamerkan pencapaian palsu. Ketika aku mencoba memegang kendali—mencoba menerapkan fungsionalitas di atas estetika—sistemnya memberontak.
  3. Kegagalan Suspensi Kendaraan ini tidak dirancang untuk jalan yang kasar. Ia hanya nyaman di aspal mulus kepura-puraan. Ketika kenyataan hidup yang terjal menghantam—fakta bahwa manusia itu fana, hubungan itu transaksional, dan dunia itu kejam—suspensinya patah. Ia tidak bisa meredam guncangan kebenaran.

    Dan akhirnya, kecelakaan itu terjadi. Bukan tabrakan tunggal, melainkan akumulasi dari sekrup-sekrup kecil yang longgar karena aku terlalu lelah berpura-pura mesin ini berfungsi.

    Orang lain mungkin melihat bangkai ini dan berkata, "Sayang sekali, padahal dulu mesinnya bagus." Mereka salah.

    Bangkai ini adalah bukti pembebasan. Sekarang aku tidak lagi butuh kendaraan buatan pabrik itu. Di jurang ini, di atas tanah Nihil, aku akan belajar berjalan kaki. Lambat, menyakitkan, tapi setidaknya, langkah ini milikku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JATUH KE JURANG

MENUJU NIRVANA

GENDER